Posted by: Indah on: November 23, 2008
Pada saat seminar kemarin… yakni seminar Next Generation Networking… saya sempat menanyakan “apa dampak negatif teknologi terhadap hubungan interaksi manusia?”
Kenapa saya bertanya seperti itu…??
Pertama, pertanyaan itu sudah seringkali saya bayangkan, dan saya sering ngobrol2 masalah ini dengan orangtua saya… apalagi melihat tujuan pencapaian telkom tahun 2014 dimana semua barang2 yang ada disekitar kita mempunyai alamat IP.. semua bisa digerakkan dengan remote…Hoooowhh
Yang menjadi bayangan saya adalah… jika semua bisa digerakkan dengan remote…(serba mudah dan otomatis…)
dari rutinitas diri kita sendiri saja…
Untuk makan… seperti tayangan dari telkom… kita tinggal pencet 1 tombol lalu tombol itu menghubungkan kita pada Resto makanan yang menyediakan layanan Delivery Order (DO)… Makanan segera sampai ke rumah kita… Atau kl kita g pengen DO, kita masak dari ’sesuatu’ yang serba instant… tinggal panasin, goreng, rebus, atau oven. Mudah! (tapi… mgkn g sehat…(udah pasti, krn mengandung bahan kimia)). Bahkan karena saking sibuknya kita, kita jadi malas makan atau g sempat makan, atau makan g teratur (udah banyak tuh iklan yang menunjukkan fenomena kaya gini kn?)… terpikir oleh saya, bahwa suatu hari nanti (mgkn di negara luar udah ada), makan tuh cmn menelan 1 tablet aja (di dalam tablet/pil/kapsul/atau apalah itu, sudah terkandung unsur2 4 sehat 5 sempurna). Mudah dan efisien. Tapi…pasti ada efeknya… Dari sini saja, saya membayangkan… g ada lagi mama yang masakin buat anak2 dan suaminya, g ada lagi proses memasak dari bahan yang masih benar2 mentah, segar, dan alami. Dan kalau kita cmn menelan pil… g ada lagi seninya makan (asam, pahit, pedas, panas2, dsb).
Itu dari segi pola makan.
Dari segi rutinitas anak…
Emg sih… dengan internet anak menjadi banyak tau (banyyyaaak bgt. Kalau kontrolnya lepas bisa bahaya. Mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahuinya dari internet). Lalu anak lebih betah duduk berlama-lama di depan TV atau komputer… Huhuhu… aku g ingin anakku kaya gitu.
CUKUP 2 JAM DI DEPAN TV ATAU KOMPUTER. SELEBIHNYA AYO BERMAIN DI LUAR!!!!
Itu yang aku dapatkan dari kuliah perkembangan anak. Dan itu yang ingin kuterapkan ke anak2ku nanti.
Aku ingin anakku main bola, main puzzle (bkn puzzle yang di komputer), dan permainan2 yang benar2 nyata. Dimana permainan tadi dapat merangsang daya pikir, logika, dan otak kanannya… Aku ingin seperti itu..
Aku g ingin anakku berkacamata sejak kecil..(gara2 terlalu sering nonton tv atau main komputer).
Lalu, banyak tenaga kerja yang tergantikan oleh mesin. Yang menyebabkan mereka kehilangan mata pencaharian merekda.
Trs, dengan teknologi 3G kita bisa bertatap muka dengan orang2 yang ingin kita temui. Mereka bilang cukup kn? Lebih menghemat biaya, tenaga, waktu dll. Tapi tetap saja, rasanya bertemu langsung itu berbeda dibandingkan dengan hanya mendengar suara atau tatap muka lewat layar saja…
Trs, jika semua bisa kita lakukan dengan hanya duduk, menghadap komputer, pegang remote… (mau kuliah, tinggal ganti baju, lalu pencet tombol, masuk channel teleconference, capek pengen pijet, pencet 1 tombol, kursi yang kita duduki mijet kita secara otomatis, pengen minum jus/kopi/teh, tinggal arahkan remote ke mesin pembuat jus/teh/kopi, pengen makan, tinggal pencet remote microwave… hohoho betapa jadi pemalasnya kita… Katanya dengan begitu kita terhindar macet… (kaya’nya kalau udah ky gitu, g mgkn macet lagi… orang2 pd di rumah g kmn2…)
Banyak dampak negatif lain yang perlu kita cermati..yang perlu kita hindari..
Dan, berhubung Bogor sering mati listrik…
Apa yang terjadi??? Teknologi sebagian besar masih menggunakan energi listrik… berhenti kah semua rutinitas? mampukah GenSet atau generator pembangkit listrik sejenis menangani keadaan selama mati listrik???
Posted by: Indah on: November 21, 2008
Sudah cukup lama blog ini tidak di-update…
Ingin rasanya kembali menulis…
Banyak angan2 tentang apa aja yang hendak ditulis…
tapi masih belum ‘kelakon’ juga…
Posted by: Indah on: Agustus 21, 2008
Aku baru tau, ternyata orang lain bisa berpikiran sejauh itu dan seburuk itu.. Ini suatu pelajaran buatku… ternyata tidak semua orang berpikiran sama denganku… Dan tidak semua orang berpikiran baik terhadapku… Meski demikian, seharusnya aku tetap berpikiran baik ttg orang tersebut… Sayangnya… sepertinya aku belum bisa… Krn kupikir orang itu adalah seseorang yg berusaha berpikiran positif… tp ternyata aku salah.. yg dipikirkannya justru jauh dari perkiraanku, meski aku bisa menebak jalan pemikirannya… hanya saja… mgkn saat ini aku sedang kecewa… dulu aku salut dan kagum dengannya… Kurasa rasa itu perlahan mulai berkurang… dan sekali lagi… manusia itu tidak ada yang sempurna…
Posted by: Indah on: Juli 22, 2008
Manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang sempurna dibandingkan makhluk ciptaanNya yang lain. Namun manusia juga diciptakan dengan serangkaian kelebihan dan kekurangan sebagai atribut bawaannya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia, kecuali nabi Muhammad SAW. Namun nabi sendiri yang telah dijamin oleh Allah tetap merasa dirinya kecil di hadapanNya.
Jika kita melihat seseorang, yang menurut penilaian dan pandangan kita bahwa orang itu nyaris tak ada kekurangannya, namun tanpa diketahui oleh kita, dia pasti punya kekurangan.
Janganlah Anda berpikiran “Seandainya aku jadi dia…” atau “Kenapa aku tidak seberuntung dia…” atau pikiran-pikiran sejenisnya… Karena yakinlah Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya, dan Allah menciptakan kita tentu punya tujuan…
Dari awal pembentukan kita… kita terbentuk dari sesuatu yang “paling baik”. Ribuan sperma bersaing untuk bisa membuahi sel telur, yang pada akhirnya, hanya ada satu sperma yang berhasil membuahi sel telur tersebut. Dari awal kita terbentuk melalui proses persaingan. Sekali lagi, yakinlah kita ini “yang terbaik” dari yang baik-baik…
Jika mungkin Anda-Anda sekalian diberi kesempatan untuk hidup bersama dengan orang yang Anda anggap “nyaris tidak ada kekurangannya”, atau mungkin Anda diberi kesempatan untuk menjadi orang itu, di sanalah Anda akan mendapati kalau orang tersebut ternyata mempunyai kekurangan.
Kekurangan yang tidak tampak jika kita hanya melihatnya sekilas atau yang tampak di luarnya saja.
Begitu juga sebaliknya, jika Anda memberikan penilaian pada seseorang dengan predikat orang tersebut banyak sekali kekurangannya, atau mungkin serba kekurangan, jangan salah… Allah pasti telah membekalinya dengan serangkaian kelebihan.
Perbedaannya adalah bagaimana caranya mengelola kelebihan dan kekurangan yang telah menjadi atribut kita ini.
Potensi itu tidak bisa ditingkatkan, tapi bisa diraih sepenuhnya… Oleh karena itu teruslah pelajari, pahami, dan gali terus potensi yang Anda miliki…
Sekali lagi, potensi itu tidak bisa ditingkatkan (-ini yang saya dapat dari matakuliah Tumbuh Kembang Manusia-, tapi bisa diraih, dicapai sepenuhnya…
Terakhir… janganlah Anda merasa diri Anda kecil atau tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan si Ini… atau si Itu, janganlah juga Anda merasa iri, sirik, atau dengki, karena itu bisa mengotori hati…
Ikhlaslah dengan semua karunia Allah yang telah diberikanNya kepada Anda. Syukuri, jaga, peliharalah, dan tingkatkanlah…
Empat parameter yang seringkali dijadikan acuan untuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain : Kecantikan (fisik), Kepintaran –lebih bersifat pengetahuan umum (otak)-, Kekayaan (harta dunia), Agama –pengetahuan agama, penerapannya, dan lain-lain-.
Anehnya, justru parameter terakhir yang seringkali diabaikan, padahal Nabi menganjurkan utamakan parameter yang terakhir…yakni agama.
Semoga kita, Anda-Anda sekalian dan saya tentunya… tetap dan selalu, tak lupa bersyukur pada apa yang telah Allah berikan kepada kita semua…
Posted by: Indah on: Juli 18, 2008
Minggu ini aku g pulang ke Bogor. Capek pulang pergi…
Komentar Terakhir